Modal Sosial
Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)
TERNYATA masih banyak hal yang baik yang kita miliki selaku bangsa yang telah lama hidup di dalam ketidakbenaran ini. Salah satunya adalah modal sosial.
Hari-hari ini, di tengah memun-caknya ketidakpercayaan kita kepada aparat penegak hukum dan para pemimpin yang sibuk me-ngejar kepentingannya sendiri, kita bertemu dengan banyak orang biasa di berbagai pelosok Indonesia yang masih memiliki cinta dan kepedulian besar kepada sesama yang menderita.
Adalah Prita Mulyasari, seorang ibu muda yang tengah diproses hukum akibat berkeluh-kesah di media maya tentang pengalaman buruknya dirawat di Rumah Sakit Omni Internasional (RSOI), Alam Sutera, Tangerang Selatan. Akibat curahan hati lewat sebuah surat elektronik, yang kemudian disebar ke publik di berbagai mailing list itu, ia ditahan di Lembaga Pemasyara-katan Wanita, Tangerang, sejak 13 Mei 2009 karena dituduh melaku-kan pencemaran nama baik terha-dap pihak RSOI.
Ceritanya begini. Prita merasa di-bohongi dengan diagnosa demam berdarah saat dirawat di RSOI pada pertengahan Agustus 2008. Bela-kangan dokter di RS swasta itu mengatakan Prita hanya terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas. Saat hendak pindah ke RS lainnya, ia mengajukan komplain karena kesulitan mendapatkan hasil lab medis. Namun, karena keluhan-nya kepada RSOI tak pernah di-tanggapi, ia mengungkapkan kro-nologi peristiwa yang menimpanya kepada teman-temannya melalui surat elektronik dan berharap agar hanya dia saja yang mengalami hal serupa.baca selanjutnya,..
Kasus Menara Swiss, Jadi Pelajaran
Tetapi Saudara tercinta, prediksi tetaplah prediksi, rencana tetaplah rencana, tetapi semua yang akan terjadi hanya Tuhan jualah yang akan menentukan. Hanya Dialah yang berkuasa dan berdaulat atas segala prediksi dan rencana umat manusia. Maka dekatkanlah dirimu hanya ke hadirat-Nya. Serahkan segala rencana, dan bahkan rasa khawatirmu kepada Yesus Tuhan, niscaya perjalanan hidupmu akan terasa lempang.
Dalam edisi pembuka di tahun 2010 ini kami mengulas isu heboh yang terjadi di Swiss. Swiss adalah negara kecil di Eropa, namun penduduknya makmur. Swiss juga salah satu negara yang aman, nyaman, dan serba teratur. Namun beberapa waktu lalu, merebak berita tentang tidak diperboleh-kannya pembangunan menara mesjid di negeri berpenduduk mayoritas beragama kristiani ini.
Sebagaimana negara di Eropa, Swiss pun menganut paham sekuler. Agama masuk dalam ranah private. Tapi negeri yang damai ini seolah terusik dan menjadi perhatian seluruh dunia gara-gara adanya rencana pembangunan menara mesjid. Sebagai negeri yang menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), Swiss pun me-nampung banyak penduduk yang beragama non-Kristen, terutama kaum muslim yang tadinya imigran dari Asia dan Afrika. Maka tidak mengherankan jika di sana pun ada beberapa mesjid. Tapi bagi warga muslim, hal itu mungkin masih be-lum cukup, mereka menginginkan agar mesjid itu bermenara. Dan permintaan ini ditolak oleh sebagian besar warga, sehingga diadakan referendum, yang ternyata dimenangkan oleh suara yang menentang didirikannya menara tersebut.baca selanjutnya,..
Jangan Menikah! Jika Takut Ada Masalah
Bersama: Bimantoro Elifas
Reformata.com – SAYA mau bercerai tapi suami tetap ingin mempertahankan pernikahan. Usia saya 22 tahun dan suami 31 tahun. Usia pernikahan kami 1 tahun, dan sudah 6 bulan ini saya kembali ke rumah orang tua. Kami sudah melakukan konseling dan rasanya memang rumah tangga kami sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Saat ini saya bekerja di biro perjalanan. Suami saya terlalu mengekang dan selalu keberatan dengan pergaulan saya. Sebagai tour guide saya sering melakukan perjalanan dan tentunya memperlakukan tamu tamu saya dengan sebaik mungkin. Ibu saya mendukung keputusan saya, tapi keluarga suami tetap ingin mengupayakan kami bersatu. Keinginan bercerai semakin kuat ketika suami mengancam akan melaporkan saya ke polisi dengan tuduhan berzinah kecuali saya kembali. Dia mendapatkan foto saya sedang mengantar seseorang ke kamar sebuah hotel. Sebuah tuduhan yang mengada-ada karena memang itu salah satu bagian pekerjaan saya. Saya tahu bercerai itu dosa tapi bagaimana lagi? Saya ingin bercerai secara baik-baik
J di Medan
SAUDARI “J” yang terkasih, bercerai secara baik-baik merupakan ungkapan yang bisa muncul ketika permasalahan yang tejadi tampaknya tidak bisa lagi diatasi. Tapi apakah betul bercerai secara baik-baik bisa terjadi? Karena dalam perceraian pasti ada pihak yang merasa disakiti. Perceraian tentunya tidak terjadi begitu saja tanpa ada latar belakang masalah sebelumnya. Saya menghargai keputusan Anda untuk bercerai, apalagi Anda merasa sudah berupaya dengan konseling. Tetapi mari kita coba pikirkan kembali beberapa hal sebagai berikut:
1) Ketika Anda mau menikah apa yang menjadi pertimbangan Anda?. Saya tidak tahu berapa lama Anda berpacaran dan menge-nal calon suami Anda. Ada orang yang menikah karena merasa yakin bahwa calon pasangan merupakan calon yang sangat mengerti di mana dia merasa aman. Tetapi ada juga yang menikah karena tuntu-tan ekonomi, atau ada juga yang menikah karena tuntutan masyara-kat, atau ada yang menikah karena sudah melakukan hubungan sek-sual, dan banyak lagi pertimbangan kenapa orang mau menikah. baca selanjutnya,..
Larangan Pendirian Menara, Cermin Konflik Peradaban?
Kini, kata Yusanto, dengan dike-luarkan keputusan pelarangan pendirian menara masjid itu berarti paradigma Swiss tentang cara pandang atau sistem kehidupan bernegara telah bergeser. “Jika sebelumnya Swiss sering dianggap sebagai contoh negara yang beradab, toleran dan pengusung utama demokrasi liberal, sekarang negara itu secara terang-terangan telah bergabung dengan gelom-bang sentimen anti-Islam yang se-makin menyebar di Eropa. Tampak misalnya, Perancis yang melarang hijab (jilbab), Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menuduh Islam adalah peradaban yang rendah, Menteri Luar Negeri (Menlu) Ing-gris Jack Straw menyerang niqab, dan lain-lain,” jelasnya.
Kenyataan ini, menurut Yu-santo, adalah sebuah ironi. Dia me-ngatakan, ketika pasukan Barat mempertahankan daerah-daerah atau negara-negara jajahan me-reka di Afghanistan dan Irak de-ngan alasan penyebaran kebe-basan, teloransi, dan demokrasi, sementara di saat yang sama penyebaran intoleransi, kebencian dan xenophobia semakin merebak luas di seluruh Eropa, dan meng-ancam warga muslim menjadi warga negara kelas dua di sana. “Jadi, demokrasi liberal Eropa tampaknya semakin sulit untuk menerima ‘orang lain’,” tandasnya.baca selengkapnya,..
Tahun 2010: Perang Dunia Ketiga!
Seirama dengan ramalan kiamat 2012, muncul pula ramalan tentang Perang Dunia III yang menghancurkan Eropa. Benarkah?
Ramalan itu datang dari Vangelia Gushterova, peramal yang diseta-rakan dengan Nostradamus. Juru ramal asal Bulgaria yang meninggal pada 1996 silam ini meramalkan bahwa tahun 2010 ini merupakan tahun kejatuhan Eropa yang diaki-batkan oleh Perang Dunia (PD) III.
Perang Dunia III itu, kata Va-ngelia, diawali dengan perang an-tara negara tetangga yang ber-kembang menjadi besar dan melibatkan banyak negara. Kualitas perang ini pun jauh dari perang-perang sebelumnya, karena mema-kai senjata nuklir dan senjata kimia. Perang ini berlangsung sampai 4 tahun, hingga 2014.
Karena memakai sejata kimia dan nuklir, maka efek destruktifnya sangat besar. Perang ini menghan-curkan hampir semua kehidupan di belahan bumi utara, khususnya Eropa yang menurut dia, pendu-duknya nyaris musnah. Benua Eropa diramalkan hanya akan didiami oleh sedikit orang karena banyak yang musnah akibat perang.
Setelah perang, hampir seba-gian besar penduduk dunia akan mengalami penyakit kanker kulit dan penyakit kulit lainnya akibat radiasi senjata kimia dan nuklir itu. baca selanjutnya,…
Cara Umum Memahami Keberadaan Tuhan
Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th*
(www.poltakypsibarani.com)
SALAH satu isu yang paling sering diperbincangkan di dunia ini sepanjang zaman adalah “keberadaan Tuhan”. Ada pihak yang meragukannya, meski-pun lebih banyak yang meyakini-nya. Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang meyakini bahwa Tuhan adalah sebuah keberadaan yang hidup, bahkan Ia adalah sebuah Pribadi. Memang mengatakan bahwa Tuhan meru-pakan sebuah Pribadi saja tidak cukup, melainkan juga perlu pem-buktiannya. Untuk itu, di bawah ini saya berusaha memopulerkan beberapa cara yang bersifat umum dalam rangka memahami kebera-daan Tuhan, dengan tujuan agar pembaca dapat memahami seka-ligus meyakini keberadaan Tuhan.
Pertama, keberadaan Tuhan didasarkan pada pandangan tentang adanya penyebab utama (causa prima). Segala sesuatu memiliki penyebab atau asal-muasal. Setiap hal ada latar belakangnya. Sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semuanya memiliki dorongan (motivasi) dan tarikan (tujuan) dari terbentuknya atau terjadinya sesuatu. Apa saja. Apakah itu suatu makhluk, benda, rumusan, atau suatu peristiwa. Logika ber-pikir seperti ini tidak harus dimiliki oleh seseorang yang sangat cen-dekia, namun dapat dimiliki oleh setiap orang, bahkan oleh sese-orang yang dianggap terbodoh sekalipun. Sebagai contoh: Hari ini adalah kelanjutan dari hari yang lalu (kemarin); buah keluar dari sebuah pohon; anak lahir dari seorang ibu; pakaian adalah hasil tenunan kain; dan seterusnya. Nah, jika diusut secara historis semua hal di dunia ini, ujung-ujungnya akan berhenti pada suatu penyebab utama. Semua hal di dunia ini memiliki “benang merah”. Ujung dari “benang merah” inilah yang sering disebut sebagai causa prima. Causa prima tidak hanya menyebabkan atau memunculkan yang bersifat kebendaan, melainkan juga yang hidup atau bergerak-gerak. Causa prima juga dipahami sebagai sesuatu yang “hidup”. Itulah Tuhan. Causa prima adalah Tuhan.baca selanjutnya,…
Pasto, Menjadi Anak Tuhan Harus Kreatif
Pdt. Imanuel Kristo, Jadilah Gereja yang Sadar Media!
Di suatu kesempatan Imanuel melakukan kesalahan. Waktu itu dia berpikir akan diadili atau dima-rahi di depan kelas oleh gurunya. Namun seorang guru yang bijak-sana memanggilnya seusai jam se-kolah dan berkata dengan lembut, “Boleh saya berdoa buatmu?” Pertanyaan yang sangat lembut ini mampu menghancurkan kekerasan pribadinya. Itu menjadi titik perubahan bagi Imanuel, di mana dia mampu melihat kebaikan seorang guru yang mengasihinya.
Imanuel mulai berpikir, “Jika se-orang guru yang juga anggota mejelis gereja bisa sebaik itu, apalagi seorang pendeta”. Inilah yang menuntun Imanuel memiliki kerinduan untuk menjadi seorang pendeta. Padahal sebelumnya dia bercita-cita menjadi pegawai kan-toran, berpenampilan rapi, bekerja di ruangan bersih dan ber-AC.
Jejak awal kependetaan
Tahun 1990, Imanuel menyele-saikan studi teologi di STT Duta Wacana, Yogyakarta. Setelah itu dia melayani di GKI Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada 1991. Imanuel menikmati pembelajaran dengan bertemu banyak orang yang berpotensi. Melayani bersama pendeta-pendeta senior dan rekan-rekan pelayan/penatua de-ngan beragam kemampuan. Tahun 1992, Imanuel melanjutkan pelaya-nan menjadi calon pendeta. Sete-lah ditahbiskan menjadi pendeta pada 1994, Imanuel tetap melayani di pelayanan konsistorium, pelaya-nan sinodal, sebagai anggota komisi pengajaran teologi, dan pendeta konsulen di GKI.baca selanjutnya,..
Bau Mulut yang Mengganggu Lingkungan
dr. Stephanie Pangau, MPH
Pertanyaan saya: Apakah penyebab penyakit saya ini, dan bagaimana cara mengatasinya? Atas jawaban dan perhatian Ibu Dokter, saya ucapkan banyak terimakasih. Sekian.baca selanjutnya,..
